Musim di hatiku

Beda dulu beda sekarang,
Dulu kamu ada, aku baik-baik saja,
Sekarang kamu juga masih ada, tapi aku jadi beda,
Satu hari saat kita berbicara, mulai mengubah aku, iya aku,
Kemarin, musim kemarau di hatiku, panjaaaang, sampai kekeringan, dasarnya pun retak,
Setelah hari itu, kamu hadir sebagai pemicu,
Hujan mulai turun, dasar yang retak mulai menyatu,
Satu, dua, tiga dan seterusnya, benih yang kering mulai tumbuh, bahkan mulai berbunga!
Tapi,
Pemicu hujan membuatku terlalu nyaman, saat aku tersadar, ternyata pemicunya hanya sementara,
Hujan turun tidak terkendali, bunga yang tumbuh kini berjatuhan,
Yang baru tumbuh kini berduyungan, mulai rubuh meski tetap tumbuh,
Dari kejauhan terlihat indah, dari dekat ternyata sampah.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s